Blog

Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

Saturday, July 26, 2014

26 Juli, Selamat Hari Puisi Indonesia!

aku mengenalmu saat kelas tiga rok merah
sekitar sembilan tahun yang lalu
puisi pertama yang kuhapal

aku mengenalmu lewat buah penamu
Aku, Chairil

"...berlari, berlari, berlari
hingga hilang pedih perih
dan aku lebih tak peduli
aku mau hidup seribu tahun lagi."

aku merapal, menyesapmu, menghirupmu
termangu,
Aku benar-benar melesak pada darahku.
mungkin benar, ku mau tak seorang kan merayu.

selamat hari puisi!

26 Juli, 2014.

Catatan:
26 Juli didepak jadi hari puisi nasional dan dirayakan tepat hari kelahiran Binatang Jalang, Chairil Anwar.
Ya, aku tak bisa melupakanmu, Chairil. Anakmu, Aku, kali pertama tanda yang mengajakku untuk masuk ke duniamu, puisi. Aku tak henti bertanya kala itu. Pertanyaanku mengalir dari rok merahku kelas tiga SD,
"Apa itu binatang jalang, Bu?"
"Kenapa mesti meradang, menerjang, Bu?"
"Apa Mia bisa hidup seribu tahun lagi?"
"Merayu itu apa, Bu?"
Waktu yang mengajarkanku kejalangan dan menjawab segala yang kutanyakan. Hmm..

aku

kalau sampai waktuku
'ku mau tak seorang, 'kan merayu
tidak juga kau

tak perlu sedu sedan itu

aku ini binatang jalang
dari kumpulannya terbuang

biar peluru menembus kulitku
aku tetap meradang menerjang

luka dan bisa kubawa berlari
berlari
hingga hilang pedih peri

dan aku akan lebih tidak perduli
aku mau hidup seribu tahun lagi.

mari berlari.

Nurings.


Thursday, July 24, 2014

Kembali

Berita pulang.
Mestikah kita kembangkan seulas senyuman?
Ataukah memeras tangis di ujung Ramadhan?

Wednesday, July 23, 2014

Anak Baik (Puisi untuk Hari Anak Nasional 23 Juli 2014)



Anak Baik

tiap habis subuh,
ayah mengajakku kemari
menimba angin asin
sarapan pasir dan laut

kami berenam bersama bayangan
kami selalu begini
diam mematung mencuri ombak
melarungkan doa

ayah bilang, ibuku ada di sana
bergelung dengan buih-buih samudra
jauh, di ujung sana
hmmm...aku dan adikku juga ingin
bergelung, rindu kami pada pelukan
ibu

ayah bilang, meski ibu jauh,
kami-aku dan adikku-mesti jadi
anak yang baik
berjuang mewujudkan cita-cita
untuk tanah yang lebih baik

ya, kami berjanji.


Pangandaran, September, ‎2013,
‏‎6:48:31 AM

Selamat hari anak nasional 2014!
=)
Semoga apa yang kita cita-citakan bisa tercapai,
untuk Indonesia emas. Aamiin

Sunday, June 8, 2014

Conto Geguritan Basa Jawa


Bapak St.Soekiman, panganggit geguritan wayang :)
Mugi saged dados conto-contoh geguritan ugi pasinaon kita sedaya, sumangga..rahayu :)

Geguritan Djaka Lodhang


Sabtu, 25 Agustus 2012
Kanca

Ana kala nelangsa
Ana kala suka cita
Ana kala memala

Saturday, May 24, 2014

Puisi Jembatan Sutardji C Bahri dan Analisisnya



JEMBATAN
Sutardji Calzoum Bachri

Sedalam-dalam sajak takkan mampu menampung
airmata bangsa. Kata-kata telah lama terperangkap
dalam basa-basi dalam ewuh pekewuh dalam
isyarat dan kilah tanpa makna

Thursday, May 15, 2014

Jarak-Distance between Us


Jarak

aku merasakanmu melalui aksara
menata kata
menjaring rima
menemukan makna

aku menyelami bahasa
mengucapkan nada tanpa suara
bercakap tanpa bersua

angin terbang menuju ruang yang panjang
demikian jarak meleraikan kita
bolehkah kutanya,
apa kau bahagia?

...distance between us.

Friday, June 14, 2013

Jika Macet Menulis Puisi



Saya suka iseng nulis, tapi sering "mentok" di tengah jalan. Gimana dong?

Lalu saya mendapat pencerahan dari buku yang sedang saya baca, judulnya Menapak ke Puncak Sajak karya Hasan Aspahani, penyair terbaik cybersastra award 2000-2006.

Thursday, June 13, 2013

Kamu Hilang


Kamu Hilang


Kamu hilang
Tanpa berita
Meninggalkan bekas tusukan sembilu
Denyut ini, terluka merah menghitam
Remuk terhantam terkena cecarmu yang tajam
Kamu lenyap
Menyatu dengan debu keruh, entah berhilir dimana
Membiarkan harapanku padamu, padam dimakan kelam



...di batas malam-malam penantian

September, 2012.



Hadiah ini tak terduga dari @SIGIDISA, benar-benar Bapak Guru yang mengharukan.
Terima kasih untuk seseorang yang tiba-tiba lenyap, yang menginspirasiku untuk terus menulis.

[:D

Wednesday, November 14, 2012

Ketika Malam Datang


Malam datang, baru saja
Bulan bundar merangkak perlahan
Angin menggigit, sengaja terpingkal
Menatapku
Yang sedang gusar


Aku rindu kamu
Rindu menyulap sendu
Jantung bergetar, kelu


Aku rindu
Kamu tak hadir, malam ini
Kamu bosan kamu lupa kamu angkuh kamu tinggalkan
           aku begitu saja
Acuh, biarkan aku mematung
Sementara waktu terkikik mendengar aku terpekik dicekik rindu
Apa-kau yang lagi disitu-dengar juga?


Di pertengahan malam ini
Awan mendengkur sisakan mendung
Disana bulan menggantung
Disini aku terkurung
Terpasung rindu yang semakin menggerung
Aku rindu kamu


Puisi ini, kubuat dengan emosional. Aku sedang rindu dengan lelaki, sangat rindu. 
Aku bacakan puisi di depan kelas ketika pelajaran bahasa Indonesia. Chika dan beberapa kawanku berhasil melelehkan air mata. Rasa hati kelu, cekit-cekit-cekit. Rindu orang yang bisa membuatmu bahagia, itu menyedihkan banget, Bung! 
Nggak sengaja, kukirim naskah kepada lelaki hebat. Ia membuatkan sketsa yang dipadukan dengan puisi ini, gambar Danbo kotak yang lagi galau. Aku malah terpingkal karenanya!




[:DD makasih, Om!

Lidi Tua



Kabut pagi yang kelabu
Masih menyelimuti aspal beku
Di tepi batang raya
Samar terlihat tua bergerak

Detik berjalan
Mengajak sinar merangkak
‘tuk terangi mayapada
Kabut mulai sirna
Namun api jwa takkan sirna

Dikau melangkah tak tentu arah
Berbekal setangkai lidi tua
Mengerang berpagut dengan batuan
Mennjelajah trotoar kusam
Singkirkan debu dan sampah
Daun kering rontokkan diri
Pun kau singkirkan jua

Keringat mengucur badan
Sambil berjalan
Kau usap sejenak
Kulit gelap
Terpanggang kobaran cahaya
Menghujam pori berbalut ari

Kuncup kembang hati bermekahan
Lantaran jalanan segar dipandang
Karenamu..
Bagai ujung tombak tusuk daging segar

Meski belulang lelah
Tak dirasakannya
Lidi tua terus menebah
Hingga bersih mengerat kalbu



Usia senja merangkul sukma
Takkan berhenti tebas molekul pengap
Sebelum benar terpanggil ajal

Sekalipun jika rohani pulang kepada-Nya
Nisanmu bertuan
Jasa hidup tersemat di dada

Dia pernah berjanji
Sisihkan pintu surga-Nya
Untuk hati mulia ikhlas
Seperti dirimu




Puisi ini kutulis pada tahun 2010, saat aku masih duduk di kelas 1 SMP di SMPN 4 Magelang. Puisi ini termasuk puisi balada.

[:DD